...Ahlan Wa Sahlan

Assalamu'alikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Rabu, 14 September 2016

Awal Pertemuan dengan Liya di Pantai Cemara

Duduk tersandar di sebuah kursi plastik berwarna merah di sudut teras rumah yang menghadap ke laut. Buaian angin pantai menyapu pelopak mata, seakan mengajak untuk bersenda gurau dengan kicauan burung dan suara gemuruh ombak laut Banda. Di halaman rumah sedang bermain sekolompok anak usia sekolah dasar, dengan teriak-teriakan dan candan “Oela.. Te eta amamimo”  yang di ciptakan anak-anak yang sedang bermain Kaofulu, selang beberapa menit terucap kalimat “Akomo to Nangu-nangu kae”  dari salah seorang anak bernama La Rian tak lama berselang dijawablah oleh teman-teman La Rian “Akomo.. Yey, serbu” . Entah kenapa? Hati ini tertegun ingin berlari juga mninggalkan tempat duduk saya, untuk menerima ajakan La Rian untuk ikut serta berenang. Ternyata ajakan La Rian menghantar ingatan saya menuju tahun 2001 silam, arah dimana masa saya masih menggunakan seragam putih merah. Saat itu ketika hendak mandi di laut, haruslah menanggalkan seluruh pembungkus tubuh, yang tersisa hanyalah Celana Kolor (CD).
Laut pesisir Bira Waragi kala itu tak ada ombak yang melambai, tak ada bisikan angin berkesiur kenacang, langitnya tampak biru dengan gumpalan awan putih berarak beriringan. Sinar matahari berpadu dengan air laut yang memantullkan warna kecerahan di pelopak mata. Air laut terasa hangat menyentuh kulit, keseruan saya tercipta bersama teman-teman bermain air, siram menyiram, lempar-melempar Fa (pasir halus), posu’usu , pokanan toga’a . Dan mencari bintang laut yang bertebaran di dasar laut. ternyata saya diajak berselancar ke masa saya berumur 11 tahun oleh alam khayal saya. Tak lama saya tersentak kaget dari khyalan akan masa kecil saya. Saya di kagetkan getar dan bunyi telepon genggam yang berisi pesan singkat dari teman yang namanya asing di pikiran saya “Kak qt dimana sa lagi berada di Wanci, berlibur”. Masih mengingat-ngingat siapakah Liya ini pesan singkat Liya belum saya balas sehingga Liya pun menelpon, dan saya jawab  panggilan Liya, percakapan kami pun berlangsung selama 30 menit 28 detik, saya tahu siapa Liya, ternyata Liya yang saya kenal 2 tahun lalu tepatnya tahun 2014 memalui jejaring sosial Facebook, diakhir percakapan Liya berucap ”ingat, besok sore ya Kak!” Wassalm. Mungkin dia menegaskan untuk tidak lupa akan perjanjian kami ke pantai Cemara besok sore.
25 April 2016 waktu pada jam dinding bercet kuning menunjukkan pukul 15.30 WITA, kumandang adzan menggema berbisik di telinga sebagai isyarat waktu untuk melaksanakan sholat Ashar, saya dengan pakain suci, songkok putih di kepala membungkus, berjalan keluar rumah melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan sholat Ashar. Sepulang dari masjid saya sempatkan duduk di teras belakang rumah, memandangi laut terbentang, pulau Kapota nampak di kejauhan arah selatan kampung Bira dan nampak samar di pelopak mata pulau Buton di bagian barat. Sampai saat dimana ketukan pintu dan ucapan salam terdengar dari arah depan rumah, Tuk.. tuk.. tuk.. Assalamu’alaikum, kak Amir? Suara salam yang saya kenal. Ya, suara adik Ory anggota komunitas PGPA. Saya menjawab salam “Wa’alaikum salam, iya de”. dan bangkit dari tempat duduk bergegas menuju pintu depan rumah yang berhadapan langsung dengan teras rumah dan membuka pintu. “Kak kita ke Pantai Cemara Ayo” kata Ory. Saya pun menyiapkan kamera DSLR, telpon genggam, Headset setelah itu mengganti pakaian dengan memakai kaos Hitam bertuliskan Pande Galia Pande Aka-aka  dan celana pendek bermotif kotak-kotak. Saya juga mengajak adik laki-laki saya Amar untuk ikut ke pantai Cemara. Perjalan ke pantai Cemara segera dimulai, saya menutup dan mengunci rumah serta memastikan aman. Ternyata terlihat di halaman rumah tepatnya di pinggir jalan anggota PGPA yang lain diantaranya Taty yang masih bercermin di spion motor, Fea dan Desi yang sibuk mengutak-atik telepon genggamnya masing-masing, serta Wulan dan Ida yang berselfie.
Bira waktu itu, disamping rumah sebelah kiri tetangga saya sedang “tutu fatu kareke” , 4 orang pemuda nampak berbincang di sudut rumah sebelah samping kanan, Matahari memebrikan sinar kehangatan, angin sepoi terasa di helai-helai rambut. Saya mempersilahkan adik saya untuk mengenderai sepeda motor, hal ini saya lakuakan agar di 10 menit perjalanan saya bisa melihat pohon Kelapa yang seakan melambai menyapa, rumah-rumah warga, rerumputan ilalang. Sesaat setelah melewati lingkungan Bira Mekar, telepon genggam saya berbunyi tanda panggilan masuk bertulisakan Liya di layar baru saya ingat saya punya janji juga dengan Liya hari bertemu di pantai Cemara. Tepat di SDN Negeri Antapia saya menyuruh adik saya untuk berhenti agar saya bisa terima panggilan telepon dari Liya, dalam panggilan saya berkata kepada Liya, “Assalamu’alaikum? Segera ke pantai Cemara saya di jalan menuju pantai Cemara.” Tanpa Liya menjawab iya, panggilan di telpon genggam saya matikan dan kembali menyuruh adik saya untuk melanjutkan perjalanan kami.
Pantai Cemara yang terletak di desa Wapia-pia kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi. Pantai Cemara berjarak  7Km dari pusat kota Wanci dan  3Km dari Bira Waragi lingkungan tempat saya tinggal. Dalam perjalanan saya melewati Kampung yaitu, Bira Mekar, Antapia, Sombu, ujung Wapia-pia dan tiga tempat wisata lain di pulau Wangi-wangi, yang diantaranya Wasabi Nua Resto dan Cafe, pantai Sombu dan Ruang Terbuka Publik Sombu Dive.
Sampai lah kami di pantai Cemara, di pantai Cemara Ory dan anggota PGPA memfungsikan kamera dari seluler mereka untuk berselfie dan berfoto, saya pun tak ketinggalan untuk mengabadikan moment dengan memotret Rona jingga mentari, hmparan pasir putih terbentang, ombak pantai Cemara bergulung-gulung, biru redupnya langit, lambaian pohon Kelapa dan siuran pohon Cemara yang berdampingan, laut jernih gemercik, lalu lalang nelayan menggunakan koli-koli (Sampan), ketinting. Speedboat melaju membelah gelombang di lautan menarik babanaboat yang ditumpangi 5 orang seumuran remaja. Sedang adik saya Amar beraktifitas dengan cara lain, yaitu bersnorkling (freedive) dan berenang sendirinya, melihat terumbu karang berwarna-warni, ikan-ikan kecil yang bergerombol dan hangatnya laut.
Mentari mulai tergelincir keperaduan, dari arah utara dibawah rindang pohon Cemara, pohon Cemara yang berjejer bersama gazibu-gazibu yang di kelola DCDC Liya bersama Erni sepupunya memakirkan kendaraan bermotor. Liya dan Erni berjalan menghampiiri saya dan menyapa saya dengan salam sahdu terdengar di telinga. Percakapan kami di mulai beriringan dengan kicaun burung Sui yang bersiul. Memandang penuh malu saya terhadap Liya, “maklum baru pertama bertemu” Saya bergumam dalam benak. Saya sempatkan mengarahkan kamera dengan membidik sang Wanita berkerudung hitam panjang selutut, seperti muslimah arab pada umummnya, wajah putih Khumairah . Satu, Dua dan Tiga Klik kamera berbunyi, memotret dengan cara diam-diam yang saya lakukan untuk mengabadikan rona kemerahan yang nampak diwajah Liya. Mentari terbenanm di berdiri berubah gelap, nampak di timur bulan menyapa, percakapan kami pun selesai di akhir kalimat terakhir yang saya ucapakan pesan kepada Liya, “In Sya Allah besok sore saya bersilaturrahim ke rumahmu ya?”. Liya tak menjawab, Liya hanya menjawab dengan salam, dia terburu-buru ke arah motor yang di parkir sepupunya lantar malam mulai menyelimuti pantai Cemara.
Ory dan adik Amar memanggilku “Ayo kita Pulang”. Amar dengan badan menggigil, “ayo kak saya sudah dingin” kata Amar. “Marimi kita pulang, biar kakak yang bawa motor”. Jawab saya. Kendaraan roda dua yang saya kendarai melaju secepat kuda yang berlari di lintasan pacuan. Beberapa kendaraan roda dua terlewat dan berbapapasan. 5 menit berlalu dalam perjalanan di jalan yang lurus, tibalah saya di rumah dan bergegas wudhu dan melaksanakan sholat maghrib. Di relung-relung hening terucap doa sahduh menusuk kalbu menghentakkan langit-langit kamar. Tangan-tangan gemetar menggigil bersatu dengan untaian tasibih cinta pada-Nya, di sela doa terbayanh di benak rona kemerahan wajah Liya, di bait-bait doa yang kuhaturkan.
Seperti pemuda lainnya, mungkin ini bunga hati yang menciptkan cinta, mungkin cinta itu akan di bangun bersama Liya, apakah Liya adalah nama yang tertulia abadi di Lauh Mahfudz bersamaku.. Malam semakin larut, angin laut menyapa dengan sejuk, mata semakin tak kuat lagi berkedip, hening malam terasa di telinga. Saya akan bercerita kembali besok ya, setelah saya bangun dengan semangat pagi dan sapaan matahari yang bersinar. Wassalam.

Rabu, 28 Mei 2014

Kesabaran (Mencari Pahlawan Indonesia) | Anis Matta



Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Maka dahulu ulama kita mengatakan: "Keberanian itu, sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat."

Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Dan itulah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya: "Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir."(QS. 8: 65).

Ada banyak pemberani yang tidak mengakhiri hidup sebagai pemberani. Karena mereka gagal menahan beban resiko. Jadi keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan. Tapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. Coba simak firman Allah swt ini: "Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami." (QS. 32 : 24).

Demikianlah kemudian ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Qur'an dan dijelaskan dengan detil beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi yang paling terhormat ketia la mengatakan: "Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan sholat. Sesungguhnya urusan ini amatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. 2: 45 )

Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.

Tapi kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu saat Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya: "Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama." (Bukhari dan Muslim). Jadi, yang pahit dari kesabaran itu hanya permulaannya. Kesabaran pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya. "Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai-sampai panah itu hanya menembus panah," kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.

Mereka yang memiliki naluri kepahlawan dan keberanian, harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal: dalam ketaatan, meninggalkan maksiat atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi, "sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya," kata Imam Ibnul Qayyim.[]

Kamis, 02 Januari 2014

Dari Wakatobi untuk Indonesia dan Dunia

Saya ingin mengapresiasi secara khusus Ide dari kawan-kawan SSC Indonesia dalam Agenda Ekspedisi Kemanusiaan Wakatobi-Indonesia 2013 di Wakatobi, khusus untuk Akh Arif dan keluarga SSC Indonesia tentunya.

Ini adalah sebuah ide briliant dan dahsyat, bukan hanya karena mempertahankan tradisi kemajemukan dan kebersamaan sebagai bangsa serta pemuda yang punya ide besar, tetapi juga membuat ajang silaturrahim dengan masyarakat Wakatobi Ini mengubah situasi HUT 1 dekade menjadi Indah dan Meriah.

Menyatukan kata silaturahmi dan kebersamaan ini adalah satu semangat yang luar biasa didalam rangkain agenda besar KAMMI Wakatobi dan  mungkin untuk kita semuanya. Kita menggunakan moment HUT 1 Dekade Wakatobi ini untuk melakukan perbaikan berkesinambungan dalan hidup kita. Moment ini sekaligus menyadarkan kita satu tema tentang apa sih Perwujudan Surga Nyata Bawah laut di Jantung segitiga Karang dunia. Nilai utama masyarakat kita ini apa cara berpikir yang membentuk struktur pemikiran orang Indonesia secara umum dan Wakatobi khususnya, dan itu adalah Gotong Royong.

Jadi orang Wakatobi itu mempunyai Karakter Tara, Turu, Toro,.. kalau mereka berbeda, mereka tidak berfikir mana yang benar mana yang salah, tetapi mereka memilih mana yang baik dari si A, si B dan Si C. Digabung jadi satu. Dan cara berfikir kolektivitas  inilah yang ada di dalam proses pembentukan perumusan Wakatobi sebagai satu peradaban baru di Bumi ini.

Inilah yang menyebabkan saya sebagai putra Wakatobi selalu yakin bahwasannya Wakatobi selalu indah di Mata Dunia, maka sayaa selalu berperan aktif dalam misi kemanusiaan di Wakatobi dalam bingkai keposa’asaan. Terima kasih SSCIndonesia.

Semua pembawaan akan jati diri Wakatobi itu pun mampu mengajak teman-teman SSC Indonesia bersilturrahim Akbar dengan kami Mayarakat Wakatobi dalam misi Kemanusian yang Dasyat ini. Dengan konsep kepedulian yang menjadi sorotan dari perjalanan mulia ini.

Rangkaian perjalanan Cinta dalam Ekspedisi Kemanusiaan ini adalah rangkain indah penyemangat dari sebuah refleksi 10 tahun Wakatobi, tentu ini tidak akan berjalan mulus jikalau kesiapan akan arti dari sebuah kemajumukan dan kebersamaan ITU ADA. Telah termaktub dalam Surat Cinta Allah Al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Seiring sejalan dalam hantaman Badai indah perairan Wakatobi, teman-teman pun masih bisa tersenyum dengan semangat yang menggebu dalam pencapain cita-cita luhur pengabdian akan Rahmatan lil alamin. Hantaman jalan yang terjal yang berbatu lagi berlubang teman-teman tetap tersenyum, itupun meyakinkan saya akan arti perjuangan yang sesungguhnya. Ya Teman-temanpun terobati dengan indahnya sepenggal Firdaus di laut luas Wakatobi, yg di berikan Allah SWT

Misi Kemanusian ini adalah langkah awal kita merajut keposa’asaan dalam bingkai kebhinekaan kami pun berani mengatakan Selogan besar kami dari Wakatobi Untuk Indonesia dan dunia. Wakatobipun bangga akan kerja-karja luhur kita teman-teman, jangan lupakan bahwa peradaban dunia baru kita akan mulai dari sini dari Syurga Nyata Bawah Laut di jantung segitiga Karang Dunia. Mohon maaf apabila Pelayanan kami sebagai tuan rumah tidak seperti yang di harapkan teman-teman, tapi inilah kami hanya mampu berusaha sebisa kemampuan kami mensukseskan Ekspedisi Kemanusiaan Wakatobi 2013. Dari kesalahan kami pun kami mohon di maafkan, kami ambil kesalahan kami sebagai Motivasi semangat kami di ekspedisi-ekspedisii selanjutnya. Jangan lupa, Wakatobi selalu memanggil kalian semua.

Kami pun persembahkan syair indah untuk teman-teman semua,
Wangi-wangi, Kahedupa, Tomia, Binongko, no He juniamo..
Bisa’ Ka’asi to’ura di togo sa togo, ki’I ndaimo ta sumolo’e..
Bara ka’asi satundo-tonduno, no tondu ke anse-anseno..
Mai To Posa’ase n Ha’da ako ta tumamba ta lumeama’e.

Tarima Kasih, kami ako te Hesulu mai di Pemerintah Kabupaten Wakatobi, SSC Indonesia, KAMMI Wakatobi, BSMI Kota Makassar, Sang Juara Resourch, Econatural Soceity, Sahabat Pulau, Pusdim Wakatobi, Kinate Wakatobi dan Seluruh Masyarakat Wakatobi.

Hati Senang Mendapat Rindu, Hati Sayang Mendapat Berkah.
Salam Cinta,

Muhammad Hamiruddin Saidun, S.Pd.I
CEO Senyum Semangat Baru (SSB) Soceity


Senin, 30 Juli 2012

Khutbah Rasulullah Menjelang Ramadhan

“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.
Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)
Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”
(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.) 
( Fadhail Al-Aysur Ats-Tsalatsah, hlm 79)

Rabu, 30 November 2011

Sepenggal Doa Untukmu


Sepenggal Doa Untukmu

 Robb,...
 Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
 Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat

 Robb,...
 Beri ketetapan hati untukku
 Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
 Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
 Tapi hati yang telah kau lihat sampai menembus relung kalbunya...

 Alloh yang Maha Kuasa,
 Maha melihat masa depan,
 Maha mengetahui yang akan terjadi
 Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku

 Ya Alloh,...
 Jika mendambanya adalah kesalahan
 dan merindunya adalah kekeliruan
 Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu...

 Jika kesempurnaannya bukan untukku...
 Tolong bawa jauh dari relung hati...
 Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
 dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya...
 Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia

 Tapi Tuhan,...
 Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
 Beri aku kekuatan menentukan pilihan
 Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
 Jika dia memang untukku...
 Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu............

 Smoga kau ridhoi kami untuk bersatu
 Mengarungi sisa umur...
 Menapaki jalan kearah Mu...
 Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami...

 Tolong beri kesabaran yang penuh...
 dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan...

 Amien......

Doa ini untuk seseorang yang telah mengingatkan tentang kekuasaan-Nya, menjadikan aku kembali merindukan cinta-Nya. Terimakasih atas semua yg pernah kita lalui. Smoga Alloh slalu membimbing & membahagiakan mu... Amien

Minggu, 13 November 2011

INDAHNYA PERNIKAHAN


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

A.       PENGERTIAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM
Pernikahan merupakan ikatan diantara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berfikir (mental), pendidikan dan lain hal.
Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan ikatan yang amat suci dimana dua insan yang berlainan jenis dapat hidup bersama dengan direstui agama, kerabat, dan masyarakat.
Aqad nikah dalam Islam berlangsung sangat sederhana, terdiri dari dua kalimat “ijab dan qabul”. Tapi dengan dua kalimat ini telah dapat menaikkan hubungan dua makhluk Allah dari bumi yang rendah ke langit yang tinggi. Dengan dua kalimat ini berubahlah kekotoran menjadi kesucian, maksiat menjadi ibadah, maupun dosa menjadi amal sholeh.
Aqad nikah bukan hanya perjanjian antara dua insan. Aqad nikah juga merupakan perjanjian antara makhluk Allah dengan Al-Khaliq. Ketika dua tangan diulurkan (antara wali nikah dengan mempelai pria), untuk mengucapkan kalimat baik itu, diatasnya ada tangan Allah SWT, “Yadullahi fawqa aydihim”.
Begitu sakralnya aqad nikah, sehingga Allah menyebutnya “Mitsaqon gholizho” atau perjanjian Allah yang berat. Juga seperti perjanjian Allah dengan Bani Israil dan juga Perjanjian Allah dengan para Nabi adalah perjanjian yang berat (Q.S Al-Ahzab : 7), Allah juga menyebutkan aqad nikah antara dua orang anak manusia sebagai “Mitsaqon gholizho”. Karena janganlah pasangan suami istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai.
Allah SWT menegur suami-suami yang melanggar perjanjian, berbuat dzalim dan merampas hak istrinya dengan firmannya : “Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali padahal kalian sudah berhubungan satu sama lain sebagai suami istri. Dan para istri kalian sudah melakukan dengan kalian perjanjian yang berat “Mitsaqon gholizho”.” (Q.S An-Nisaa’ : 21).
B.     HUKUM PERNIKAHAN DALAM ISLAM
Hukum Pernikahan dalam Islam
Dalam pembahasan ini kita akan berbicara tentang hukum menikah dalam pandangan syariah. Para ulama ketika membahas hukum pernikahan, menemukan bahwa ternyata menikah itu terkadang bisa mejadi sunnah, terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan. Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi, mari kita bedah satu persatu.

1. Pernikahan Yang Wajib Hukumnya
Menikah itu wajib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya.
Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya :
Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS.An-Nur : 33)

2. Pernikahan Yang Sunnah Hukumnya
Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif.
Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT.
Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam.
Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi 7/78)
Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berkomentar tentang orang yang tidak mau menikah sebab orang yang tidak sempurna ibadahnya.

3. Pernikahan Yang Haram Hukumnya
Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya.
Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya.
Seperti orang yang terkena penyakit menular yang bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya.
Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Juga menikahi wanita pezina dan pelacur. Termasuk menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, wanita yang berada dalam masa iddah.
Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain lagi seperti pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang kita kenal dengan nikah kontrak.

4. Pernikahan Yang Makruh Hukumnya
Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah.
Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami.
Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar.

5. Pernikahan Yang Mubah Hukumnya
Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya.
Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah.

C.      HIKMAH NIKAH
Anjuran telah banyak disinggung oleh Allah dalam al-Quran dan Nabi lewat perkataan dan perbuatannya. Hikmah yang terserak di balik anjuran tersebut bertebaran mewarnai perjalanan hidup manusia.
Secara sederhana, setidaknya ada 5 (lima) hikmah di balik perintah menikah dalam Islam.

Pertama, sebagai wadah birahi manusia
Allah ciptakan manusia dengan menyisipkan hawa nafsu dalam dirinya. Ada kalanya nafsu bereaksi positif dan ada kalanya negatif.
Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu birahi dan menempatakannya sesuai wadah yang telah ditentukan, akan sangat mudah terjebak pada ajang baku syahwat terlarang. Pintu pernikahan adalah sarana yang tepat nan jitu dalam mewadahi ‘aspirasi’ nulari normal seorang anak keturunan Adam.

Kedua, meneguhkan akhlak terpuji
Dengan menikah, dua anak manusia yang berlawanan jenis tengah berusaha dan selalu berupaya membentengi serta menjaga harkat dan martabatnya sebagai hamba Allah yang baik.
Akhlak dalam Islam sangatlah penting. Lenyapnya akhlak dari diri seseorang merupakan lonceng kebinasaan, bukan saja bagi dirinya bahkan bagi suatu bangsa. Kenyataan yang ada selama ini menujukkkan gejala tidak baik, ditandai merosotnya moral sebagian kawula muda dalam pergaulan.
Jauh sebelumnya, Nabi telah memberikan suntikan motivasi kepada para pemuda untuk menikah, “Wahai para pemuda, barangsiapa sudah memiliki kemampuan untuk menafkahi, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat meredam keliaran pandangan, pemelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa adalah sebaik-baik benteng diri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketiga, membangun rumah tangga islami
Slogan “sakinah, mawaddah, wa rahmah” tidak akan menjadi kenyataan jika tanpa dilalui proses menikah. Tidak ada kisah menawan dari insan-insan terdahulu maupun sekarang hingga mereka sukses mendidik putra-putri dan keturunan bila tanpa menikah yang diteruskan dengan membangun biduk rumah tangga islami.
Layaknya perahu, perjalanan rumah tangga kadang terombang-ambing ombak di lautan. Ada aral melintang. Ada kesulitan datang menghadang. Semuanya adalah tantangan dan riak-riak yang berbanding lurus dengan keteguhan sikap dan komitmen membangun rumah tangga ala Rasul dan sahabatnya.
Sabar dan syukur adalah kunci meraih hikmah ketiga ini. Diriwayatkan tentang sayidina umar yang memperoleh cobaan dalam membangun rumah tangga.
Suatu hari, Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan kecerewetan istrinya.
Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah.Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Beliau berkata, “Wahai saudaraku, istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepada kita, janganlah kita hanya mengingat keburukannya dan melupakan kebaikannya.”
Pasangan yang ingin membangun rumah tangga islami mesti menyertakan prinsip kesabaran dan rasa syukur dalam mempertahankan ‘perahu daratannya’.
Keempat, memotivasi semangat ibadah
Risalah Islam tegas memberikan keterangan pada umat manusia, bahwa tidaklah mereka diciptakan oleh Allah kecuali untuk bersembah sujud, beribadah kepada-Nya.
Dengan menikah, diharapkan pasangan suami-istri saling mengingatkan kesalahan dan kealpaan. Dengan menikah satu sama lain memberi nasihat untuk menunaikan hak Allah dan Rasul-Nya.
Lebih dari itu, hubungan biologis antara laki dan perempuan dalam ikatan suci pernikahan terhitung sebagai sedekah. Seperti diungkap oleh rasul dalam haditsnya, “Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah.” “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim)

Kelima, melahirkan keturunan yang baik
Hikmah menikah adalah melahirkan anak-anak yang salih, berkualitas iman dan takwanya, cerdas secara spiritual, emosional, maupun intelektual. Dengan menikah, orangtua bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi yang bertakwa dan beriman kepada Allah. Tanpa pendidikan yang baik tentulah tak akan mampu melahikan generasi yang baik pula.
Lima hikmah menikah di atas, adalah satu aspek dari sekian banyak aspek di balik titah menikah yang digaungkan Islam kepada umat. Saatnya, muda-mudi berpikir keras, mencari jodoh yang baik, bermusyawarah dengan Allah dan keluarga, cari dan temukan pasangan yang beriman, berperangai mulia, berkualitas secara agama, lalu menikahlah dan nikmati hikmah-hikmahnya.

D.     RUKUN-RUKUN PERNIKAHAN
1)     Ada calon mempelai pengantin pria dan wanita
2)     Ada wali pengantin perempuan
3)     Ada dua orang saksi pria dewasa
4)     Ada ijab (penyerahan wali pengantin wanita) dan ada qabul (penerimaan dari pengantin pria)
5)     Pantangan / Larangan-Larangan Dalam Pernikahan/Perkawinan
ü  Ada hubungan mahram antara calon mempelai pria dan wanita
ü  Rukun nikah tidak terpenuhi
ü  Ada yang murtad keluar dari agama islam

Rukun secara bahasa adalah bagian pojok pada suatu bangunan yaitu bagian terkuat yang menyangga bangunan agar tetap kokoh,
Dan secara istilah adalah apa-apa yang jika sesuatu perbuatan dilaksanakan tidak dengannya akan batal. contohnya seperti rukun-rukun sholat adalah rukuk dan sujud, maka jika sholat dilaksanakan tanpa rukuk atau sujud maka sholat tersebut tidak sah atau batal.
Berikut adalah rukun-rukun nikah dan penjelasannya yang mana jika satu dari rukun-rukun ini tidak terlaksana maka nikah tersebut tidak sah atau batal :

1)     Kedua mempelai yaitu calon suami dan calon istri.
2)     Akad nikah yaitu ijab dan qobul atau serah terima dan penyataan dari calon suami wali calon istri. ijab adalah pernyataan dari wali mempelai perempuan atau yang mewakilinya, contoh lafadz ijab adalah saya nikahkan kamu dengan anakku, dan qobul adalah pernyataan yang keluar dari mempelai laki-laki, contoh lafadz qobul adalah saya terima nikahnya dengan mahar sekian dan sekian.

Apakah akad harus memakai bahasa arab?
Jawabannya adalah tidak harus, dan sah nikahnya bagi seseorang yang tidak pandai bahasa arab untuk memakai bahasanya sebagai lafadz akad. dan tidak disarankan bagi orang yang tidak bisa bahasa arab untuk melafadzkan lafadz akad menggunakan bahasa arab, karena percuma saja dia melafadzkan dengan lafadz yang tidak dia pahami maknanya. maka cukup memakai bahasanya sendiri dan sah nikahnya seperti contoh lafadz diatas dengan bahasa Indonesia. sedangkan orang yang pandai bahasa arab untuk menggunakan bahasa arab sebagai lafadz akad nikah.

Bagaimana jika lafadz qobul tidak langsung diucapkan setelah lafadz ijab?
Jika seorang wali mempelai perempuan mengatakan "saya nikahkan kamu dengan anakku" kemudian mempelai laki-laki tidak langsung mengucapkan "saya terima nikahnya" dan mengucapkannya beberapa menit setelah lafadz dari wali misalnya, maka hal itu sah dan diperbolehkan dengan syarat masih dalam satu majlis atau belum berpisah.
Tidak seperti yang banyak dipraktekan dinegara kita, mempelai laki-laki harus secara langsung mengucapkan "saya terima nikahnya" setelah wali mempelai perempuan atau yang mewakilinya mengucapkan "saya nikahkan kamu/saudara dengan anakku". dan jika tidak langsung diucapkan maka nikahnya belum sah. dan ini adalah anggapan yang salah. dan yang benar adalah tidak mengapa dan sah nikahnya walau lafadz qobulnya agak diakhirkan dengan syarat masih dalam satu majlin atau belum beranjak dari majlis akad tersebut dan nikahnya sah hukumnya.

E.      MUHRIM ATAU MAHRAM
Konteks pembahasan ini adalah antara kata "muhrim" dan "mahram" dalam bahasa Indonesia yang termasuk kata serapan untuk menyatakan hubungan saudara, dan dalam fiqih berarti orang-orang yang tidak boleh/haram dinikahi, yaitu saudara-saudara dekat baik karena nasab (keturunan) atau persusuan.
Penggunakan kata untuk menyatakan saudara yang tidak boleh/haram dinikahi, apakah "muhrim" atau "mahram". manakah yang tepat?
"Muhrim" adalah kata subjek (pelaku) dari "ihram" yaitu orang yang telah mengenakan pakaian ihram untuk haji atau umrah.
"Mahram" adalah orang yang diharamkan untuk dinikahi baik karena nasab (keturunan) atau persusuan. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
Artinya : "Tidaklah (boleh) seorang wanita bepergian kecuali bersama mahram."
Jadi jika ingin menyebut saudara yang haram dinikahi maka kata "mahram" lah yang tepat. sedangkan kata "muhrim" sebagaimana disebutkan diatas adalah orang yang telah melakukan ihram untuk haji atau umrah.

...Wailal-ligo'

Terima kasih atas kunjungan bro n sis ke blogku, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,